Minggu, 17 November 2013
Senin, 11 November 2013
Grace Oktavia: Pengertian IT
Grace Oktavia: Pengertian IT: Pengertian dan Definisi IT IT atau information technology yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan teknologi informasi memang s...
Jumat, 25 Oktober 2013
KTI
Dampak Penggunaan LCD terhadap Proses Belajar Mengajar di Kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Palopo
DISUSUN
OLEH
NAMA
: GRACE OKTAVIA
KELAS
: XII IPA 1
SMA
NEGERI 1 PALOPO
HALAMAN PENGESAHAN
Karya
Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat bidang studi Bahasa Indonesia
untuk mengikuti Ujian Semester 5 (ganjil) tahun pembelajaran 2012/2013 yang
mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guna meningkatkan mutu
pendidikan yang telah diterima dan disahkan oleh :
Palopo,
28 Februari 2013
Wali
Kelas XII IA 1 Pembimbing
Drs. H.
BAHARUDDIN, M. Pd Drs. SAMAL, M.Pd
NIP:19620804
198703 1 015 NIP: 1964 1231 199303 1 115
Mengetahui,
Kepala SMA Negeri 1 Palopo
Drs. M.
Jaya, M.Si
NIP :
19561222 198403 1 009
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAAN.......................................................................... ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A. Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C. Tujuan........................................................................................................ 2
D. Manfaat Penelitian.................................................................................... 2
E. Ruang
Lingkup/Pembatasan Masalah....................................................... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Analitis Teoretis........................................................................................ 5
1. Media Pembelajaran
2.
Pengertian Belajar............................................................................... 13
3.
Pengertian Mengajar............................................................................ 14
4.
LCD.................................................................................................... 15
5.
Permukaan
Layar Proyeksi LCD......................................................... 16
6.
Cara Kerja LCD.................................................................................. 17
7.
Hipotesis
Penelitian atau Tindakan..................................................... 17
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian................................................................... 24
B. Variabel Penelitian....................................................................................
C. Teknik Pengumpulan Data........................................................................ 21
BAB IV
A. Hasil
Penelitian.......................................................................................... 20
BAB
V
A. Kesimpulan................................................................................................ 24
B. Saran.......................................................................................................... 25
C.
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................... 26
RIWAYAT PENULIS......................................................................................... 27
KATA
PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan ke hadirat
Tuhan Yang Maha Pemurah, atas segala limpahan kasih dan karunia-Nya, sehingga
Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Dampak
Penggunaan LCD terhadap Proses Belajar Mengajar di Kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1
Palopo”.
Skripsi ini
dapat terwujud dengan baik berkat uluran tangan dari berbagai pihak,
teristimewa pembimbing. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi tingginya
kepada:
1.
Drs. Muh Jaya M.Si selaku kepala sekolah SMA
negeri 1 Palopo yang telah memberikan izin kepada penyusun atas penulisan Karya
Tulis Ilmiah ini.
2.
Drs. Samal M.M.Pd selaku guru pembimbing bahasa
Indonesia yang telah membantu penyusun berupa bimbingan dan motivasi dalam
penyusunan karya tulis ilmiah ini.
3.
Kedua orang tua saya yang telah mengasuh dan
mendidik saya serta memberikan motivasi,
dorongan serta pengorbanan materil.
4.
Teman-teman khususnya kelas XII IA1 yang telah memberikan dukungan moril dan
saran-saran terhadap penyusunan karya tulis ilmiah ini.
5.
Pihak-pihak lain yang tak dapat penyusun
sebutkan satu per satu, yang telah membantu selama penyusunan karya tulis
ilmiah ini.
Penulis menyadari sepenuh hati, bahwa skripsi ini
masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritik yang membangun akan diterima
dengan senang hati untuk perbaikan lebih lanjut. Semoga karya
tulis ilmiah ini bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Palopo,
28 Februari 2013
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Proses
belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses
penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran. Pesan berupa isi ajaran
dan didikan yang ada dikurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam
simbol-simbol komunikasi berupa simbol verbal maupun non verbal.
Menurut
Sanjdjaja (1999) dalam Marbun (2010), penggunaan media pada tahap awal proses
belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi, dan rangsangan untuk belajar serta memberikan pengaruh
psikologis terhadap siswa. Dengan media, kerumitan bahan yang akan disampaikan
dapat disederhanakan.
Kehadiran
media pembelajaran mempunyai arti dan makna yang cukup penting dalam proses
belajar mengajar. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang
disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.
Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada peserta didik dapat disederhanakan
dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan
melalui kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkritkan
dengan kehadiran media. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah
menerima bahan daripada tanpa antuan media.
Dewasa
ini orang semakin sadar dan merasakan akan pentingnya media dalam rangka
membantu dalam proses pembelajaran. Ini karena pada hakikatnya proses belajar
adalah poses komunikasi. Proses komunikasi (proses penyampaian pesan) harus
diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar-menukar pesan
atau informasi oleh setiap guru dan siswa. Pesan atau informasi dapat berupa
pengetahuan, keahlian, skill, ide, pengalaman dan sebagainya. Melalui proses
komunikasi, pesan atau informasi dapat diserap atau dihayati orang lain. Tetapi
kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa proses komunikasi dalam pembelajaran
sering terjadi penyimpangan-penyimpangan yang disebabkan oleh kecenderungan
verbalisme, ketidaksiapan siswa, kurang menarik perhatian dan sebagainya. Agar
tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam proses komunikasi perlu digunakan
sarana yang membantu proses komunikasi yang disebut media.
Penggunaan
media dalam proses belajar mengajar dapat membantu kelancaran, efektifitas dan
efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran. Media merupakan salah satu komponen
yang tidak bisa diabaikan dalam mengembangkan sistem pembelajaran yang sukses.
Bahkan pelajaran yang dimanipulasikan dalam bentuk media pembelajaran dapat
menjadikan siswa belajar sambil bermain
dan bekerja. Dengan menggunakan suatu media dalam belajar akan lebih
menyenangkan siswa dan sudah tentu pembelajaran akan benar-benar bermakna.
Salah satu alasan dalam digunakannya media dalam proses belajar mengajar adalah
berkenan denga taraf berfikir siswa. Taraf berfikir manusia mengikuti taraf
perkembangan, dimulai dari taraf berfikir konkrit menjadi abstrak, dimulai dari
berfikir sederhana ke komplek. Pengguanaan media pembelajaran erat kaitannya
dengan tahapan berfikir tersebut. Karena dengan media, hal-hal yang abstarak
dapat dikonkritkan dan hal-hal yang komplek dapat disederhanakan.
Daya
serap siswa terhadap kalimat yang guru sampaikan relatif kecil, karena siswa
hanya dapat menggunakan indera pendengaran (audio), bukan penglihatan (visual).
Selain itu juga karena penguasaan yang relatif belum banyak. Sebuah penelitian
menemukan bahwa pengetahuan seseorang melalui penglihatan 83% lebih besar dari pada
11% melalui pendengaran. Sedangkan kemampun daya ingat sebesar 50% dari
penglihatan dan 20% dari pendengaran.
Oleh
karena itu dibutuhkan suatu media yang dapat membantu proses belajar mengajar
dikelas. Media yang dimaksudkan adalah LCD.
Penggunaan
LCD telah diterapkan di semua kelas di SMA Negeri 1 Palopo. Dampak yang
ditimbulkan memiliki pengaruh yang besar terhadap kelancaran proses belajar
mengajar.
Berdasarkan
permasalahan di atas, penulis tertarik melakuakan penelitian tentang Dampak
Penggunaan LCD Terhadap Proses Belajar Mengajar di Kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1
Palopo.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah
dampak yang ditimbulkan dari penggunaan LCD terhadap proses belajar mengajar di
kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Palopo?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui
dampak yang ditimbulkan dari pengguanaan LCD terhadap proses belajar mengajar
di kelas SMA Negeri 1 Palopo
D. Manfaat Penelitan
1.
Manfaat praktis.
Manfaat praktis penelitian ini adalah:
a. Mengetahui dampak
penggunaan LCD terhadap proses belajar-mengajar di SMA Negeri 1 Palopo.
b.
Memberikan informasi tambah bagi guru sebagai pengajar dalam
usahanya melaksanakan proses belajar mengajar.
2. Manfaat teoritis
Manfaat
teoritis penelitian ini adalah :
a.
Menambah kajian studi pengembangan media pembelajaran dengan
memanfaatkan LCD bagi
pembelajaran di SMA Negeri 1 Palopo.
b.
Dapat digunakan sebagai literatur pembanding dalam pelaksanaan penelitian yang relevan
di masa yang akan datang.
E.
Ruang
Lingkup/Pembatasan Maslah
Dalam
karya ilmiah ini ini terdapat batasan permasalahan yang akan dipaparkan guna
menghindari terjadinya perluasan masalah, yaitu sebagai berikut:
ü Dampak
penggunaan LCD terhadap proses belajar mengajar di kelas XII IPA 1 Palopo
ü Dampak
positif dan negatif yang ditimbulkan dari penggunaan LCD.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Analisis Teoritis
1.
Media Pembelajaran
Penggunaan media sudah
banyak dilakukan oleh para pendidik
sebagai alat bantu
untuk menjelaskan suatu pelajaran atau permasalahan
kepada anak didik dalam
proses pembelajaran. Penggunaan media juga
dapat menumbuhkan
ketertarikan siswa untuk memahami mata pelajaran
yang sedang diajarkan.
Dari ketertarikan ini diharapkan media juga
membangkitkan motivasi
belajar siswa, sehingga siswa dapat mengerti
atau memahami suatu
pelajaran dengan mudah dalam proses belajar mengajar.
Menurut Azhar Arsyad
(2003:3), media adalah alat yang
menyampaikan atau mengantarkan
pesan-pesan pengajaran. Media
pembelajaran adalah
seperangkat alat bantu atau pelengkap yang
digunakan oleh guru
atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan
siswa atau siswa.
Menurut Arief S.
Sadiman (2003: 16) media pendidikan
mempunyai
kegunaan-kegunaan sebagai berikut :
a. Memperjelas
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis
(dalam bentuk bentuk kata-kata tertulis atau lisan berlaka)
b. Mengantasi
keterbatasan ruang, waktu dan daya indera seperti
misalnya :
1) Objek yang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar,
film bingkai, film, atau model
2) Objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai,
film, atau gambar
3) Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan
timelapse atau high-speed photography
4) Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan
Lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal
5) Objek yang terlalu kompleks (misal mesin-mesin) dapat disajikan
dengan model, diagram, dan lain-lain
6) Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan
lain-lain) dapat divisualkan dalalm bentuk film, film bingkai,
gambar, dan lain-lain.
c. Dengan menggunakan
media pendidikan secara tepat dan bervariasi
dapat diatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan
berguna untuk :
1) Menimbulkan kegairahan belajar
2) Emungkinkan interaksi yang lebih langsung
antara anak didik
dengan lingkungan dan
kenyataan
3) Memungkinkan anak didik belajar
sendiri-sendiri menurut
kemampuan dan minatnya
d. Dengan sifat yang
unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan
lingkungan dan pengalaman yang berbeda,
sedang kurikulum dan
materi pendidikan ditentukan sama untuk
setiapsswa, maka guru akan mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus
diatasi sendiri. Apalagi bila latar-belakang lingkungan guru dengan siswa juga
berbeda. Masalah ini dapat diantisipasi dengan media pendidikan,
yaitu dengan
kemampuannya dalam :
1) Memberikan
perangsang yang sama
2) Mempersamakan
pengalaman
3)
Menimbulkan persepsi yang sama
Perhatikan gambar
berikut ini :
Abstrak
|
Konkret
|
Gambar 1. Kerucut
Pengalaman Edgar Dale
Edgar Dale dalam Arief
S. Sadiman (2003: 8) mengklasifikasi pengalaman menurut tingkat diri yang
paling kongkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal
dengan nama kerucut pengalaman Cone of Experience dari Edgar Dale, dan
sejak saat itu dikenal secara luas dalam menentukan alat bantu apa yang paling
sesuai untuk pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar seseorang diperoleh
mulai dari pengalaman lapangan (kongkret), kenyataan yang ada di lingkungan
kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal
(abstrak). Semakin ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampaian
pesan itu. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan
media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar yang baik harus bisa memberikan
pemahaman lebih konkret kepada siswa, dengan cara pemahaman berupa penggabungan
berbagai indera yang dimiliki oleh siswa, sehingga siswa lebih banyak menyerap
materi yang disampaikan lewat media tersebut.
Menurut Sudjana dan
Rivai dalam Azhar Arsyad (2006: 24-25),
manfaat
media pembelajaran dalam proses belajar siswa adalah:
a. Pengajaran akan lebih menarik
perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
b.
Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai
tujuan pengajaran.
c.
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi
verbal
melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru
tidak kehabisan tenaga apabila kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
d.
Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi
juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lainlain.
Arief S. Sadiman (2003:
16) memberikan pendapatnya mengenai
kegunaan media pendidikan, yaitu:
(1) memperjelas penyajian pesan agar
tidak terlalu verbal,
(2)
mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya
indera,
(3) mengatasi sikap pasif anak didik, (4)
mengatasi perbedaan
pengalaman dan latar belakang yang
terdapat pada anak didik.
Menurut John M. Lennon
yang dikutip dalam Latuheru (1988: 22),
mengemukakan
lima fungsi media pembelajaran, yaitu:
a.
media pembelajaran berguna untuk menarik minat siswa terhadap
materi pengajaran yang disajikan.
b.
media pembelajaran berguna dalam hal meningkatkan pengertian anak
didik terhadap materi pengajaran yang
disajikan.
c.
media pembelajaran mampu memberikan/menyajikan data yang kuat
dan terpercaya tentang sesuatu hal atau
kejadian.
d.
media pembelajaran berguna untuk menguatkan suatu informasi.
e.
dengan menggunakan media pembelajaran, memudahkan dalam hal
pengumpulan dan pengolahan data.
Berdasarkan
beberapa keterangan di atas maka dapat disimpulkan
mengenai
manfaat media dalam pembelajaran yaitu:
(1) dapat memperjelas penyajian
pesan dan informasi sehingga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar,
(2) menarik minat siswa
sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar,
(3) dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang
dan waktu,
(4) dapat memberikan kesamaan pengalaman dan persepsi
kepada siswa,
(5) pembelajaran akan
lebih menarik didukung media pembelajaran yang inetraktif dan edukatif,
sehingga terjadi komunikasi dua arah antara guru dan siswa.
2. Pengertian Belajar
Belajar merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan siswa misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, dan meniru. Dalam arti luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Belajar dalam arti sempit diartikan sebagai usaha menguasai ilmu pengetahuan (Sardiman, 2001).
Menurut Sanjaya (2006), bahwa belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Dalam pembelajaran berpikir proses pendidikan di sekolah tidak hanya menekankan kepada akumulasi pengetahuan meteri pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri.
Menurut Sanjaya (2006), belajar adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Prinsip belajar ini sejalan dengan empat pilar pendidikan universal yang dirumuskan UNESCO (1996), yaitu (i) learning know atau learning to learn bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada hasil belajar, tetapi juga berorientasi kepada proses belajar,
(ii) learning to do bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar den melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi. Learning to do juga berarti proses pembelajaran yang berorientasi kepada pengalaman manakala anak diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu, (iii) learning to be bahwa belajar adalah membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”, dan (iv) learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama.
Menurut Abdullah (1990), mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses dimana terdapat perubahan sebagai hasil dari berbagai perubahan pada berbagai aspek pengetahuan, aspek pemahaman, aspek sikap, kecakapan, kemampuan, serta aspek-aspek lainnya yang ada pada individu yang belajar. Belajar pada hakekatnya berhubungan dengan perubahan tingkah laku pada seseorang yang kemudian perubahan tersebut menjadi miliknya. Perubahan yang dialami tersebut, menyebabkan seseorang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (2001), bahwa belajar adalah suatu bentuk perubahan atau perubahan dalam diri seseorang dinyatakan dengan cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Beberapa definisi dari belajar maka disimpulkan sebagai suatu usaha atau aktivitas untuk melakukan perubahan berbagai aspek pada individu yang belajar, melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan berbagai proses, pemahaman, konsep, latihan, menemukan dan bekerja sama.
Belajar merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan siswa misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, dan meniru. Dalam arti luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Belajar dalam arti sempit diartikan sebagai usaha menguasai ilmu pengetahuan (Sardiman, 2001).
Menurut Sanjaya (2006), bahwa belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Dalam pembelajaran berpikir proses pendidikan di sekolah tidak hanya menekankan kepada akumulasi pengetahuan meteri pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri.
Menurut Sanjaya (2006), belajar adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Prinsip belajar ini sejalan dengan empat pilar pendidikan universal yang dirumuskan UNESCO (1996), yaitu (i) learning know atau learning to learn bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada hasil belajar, tetapi juga berorientasi kepada proses belajar,
(ii) learning to do bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar den melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi. Learning to do juga berarti proses pembelajaran yang berorientasi kepada pengalaman manakala anak diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu, (iii) learning to be bahwa belajar adalah membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”, dan (iv) learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama.
Menurut Abdullah (1990), mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses dimana terdapat perubahan sebagai hasil dari berbagai perubahan pada berbagai aspek pengetahuan, aspek pemahaman, aspek sikap, kecakapan, kemampuan, serta aspek-aspek lainnya yang ada pada individu yang belajar. Belajar pada hakekatnya berhubungan dengan perubahan tingkah laku pada seseorang yang kemudian perubahan tersebut menjadi miliknya. Perubahan yang dialami tersebut, menyebabkan seseorang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (2001), bahwa belajar adalah suatu bentuk perubahan atau perubahan dalam diri seseorang dinyatakan dengan cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Beberapa definisi dari belajar maka disimpulkan sebagai suatu usaha atau aktivitas untuk melakukan perubahan berbagai aspek pada individu yang belajar, melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan berbagai proses, pemahaman, konsep, latihan, menemukan dan bekerja sama.
3. Pengertian Mengajar
Menurut Purwadarminta (1990) berpendapat bahwa mengajar adalah mengerti, memberi instruksi kepada murid. Pandangan lain tentang mengajar dapat dilihat dari sudut siswa yang belajar. Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar (Sudjana,1989). Dengan demikian mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Menurut Sanjaya (2006), asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Atas dasar asumsi itulah pembelajaran berpikir memandang bahwa mengajar itu bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, melainkan suatui aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Atau mengajar adalah berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
La costa (dalam Sanjaya, 2006), mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga, yaitu (i) teaching of thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu, misalnya keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif dan lain sebagainya, (ii) teaching for thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Jenis pembelajaran ini lebih menitikberatkan kepada proses menciptakan situasi dan lingkungan tertentu, contohnya menciptakan suasana keterbukaan yang demokratis, menciptakan iklan yang menyenangkan sehingga memungkinkan siswa dapat berkembang secara optimal, (iii) teaching about thinking adalah pembelajaran yang diarahkan pada upaya untuk membantu agar siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Jenis pembelajaran ini lebih menekankan kepada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsunganya proses mengajar. Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Mengajar juga diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak (Sardiman, 2001).
Menurut Losanov, (1978 dalam De Porter, 2002), bahwa belajar mengajar adalah proses yang kompleks. Setiap kata, pikiran, tindakan , dan asosiasi digunakan untuk mencapai hasil belajar. Sejauh ,mana guru mengubah lingkungan , presentasi, dan rancangan pengajaran,sejauh itu pula proses belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan rumusan tentang pengertian mengajar seperti yang dikemukakan di atas, juga melihat hakekat mengajar sebagai proses, maka dirumuskan bahwa mengajar adalah proses yang dilakukan oleh guru dalam memotivasi kegiatan belajar siswa. Dimana hal ini tidak lepas dari peran guru sebagai pengajar. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Sanjaya (2006), beberapa peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu (i) sebagai sumber belajar, (ii) sebagai fasilitator yaitu memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran, (iii) sebagai pengelola pembelajaran yaitu dapat menciptakan iklam belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman, (iv) sebagai demonstrator yaitu berperan untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan, (v) sebagai pembimbing, (vi) sebagai motivator, dan (vii) sebagai evaluator.
Menurut Purwadarminta (1990) berpendapat bahwa mengajar adalah mengerti, memberi instruksi kepada murid. Pandangan lain tentang mengajar dapat dilihat dari sudut siswa yang belajar. Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar (Sudjana,1989). Dengan demikian mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Menurut Sanjaya (2006), asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Atas dasar asumsi itulah pembelajaran berpikir memandang bahwa mengajar itu bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, melainkan suatui aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Atau mengajar adalah berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
La costa (dalam Sanjaya, 2006), mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga, yaitu (i) teaching of thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu, misalnya keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif dan lain sebagainya, (ii) teaching for thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Jenis pembelajaran ini lebih menitikberatkan kepada proses menciptakan situasi dan lingkungan tertentu, contohnya menciptakan suasana keterbukaan yang demokratis, menciptakan iklan yang menyenangkan sehingga memungkinkan siswa dapat berkembang secara optimal, (iii) teaching about thinking adalah pembelajaran yang diarahkan pada upaya untuk membantu agar siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Jenis pembelajaran ini lebih menekankan kepada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsunganya proses mengajar. Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Mengajar juga diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak (Sardiman, 2001).
Menurut Losanov, (1978 dalam De Porter, 2002), bahwa belajar mengajar adalah proses yang kompleks. Setiap kata, pikiran, tindakan , dan asosiasi digunakan untuk mencapai hasil belajar. Sejauh ,mana guru mengubah lingkungan , presentasi, dan rancangan pengajaran,sejauh itu pula proses belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan rumusan tentang pengertian mengajar seperti yang dikemukakan di atas, juga melihat hakekat mengajar sebagai proses, maka dirumuskan bahwa mengajar adalah proses yang dilakukan oleh guru dalam memotivasi kegiatan belajar siswa. Dimana hal ini tidak lepas dari peran guru sebagai pengajar. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Sanjaya (2006), beberapa peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu (i) sebagai sumber belajar, (ii) sebagai fasilitator yaitu memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran, (iii) sebagai pengelola pembelajaran yaitu dapat menciptakan iklam belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman, (iv) sebagai demonstrator yaitu berperan untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan, (v) sebagai pembimbing, (vi) sebagai motivator, dan (vii) sebagai evaluator.
4. LCD
LCD merupakan salah satu jenis proyektor
yang digunakan untuk menampilkan video,
gambar,
atau data dari komputer
pada sebuah layar atau sesuatu dengan permukaan datar seperti tembok, dsb. Proyektor
jenis ini merupakan jenis yang lebih modern dan merupakan teknologi yang
dikembangkan dari jenis sebelumnya dengan fungsi sama yaitu Overhead Projector
(OHP) karena pada OHP datanya masih berupa tulisan pada kertas
bening. Proyektor LCD
biasanya digunakan untuk menampilkan gambar
pada presentasi atau perkuliahan, tapi juga bisa digunakan sebagai aplikasi
home theater. Untuk menampilkan gambar,
proyektor
LCD
mengirim cahaya
dari lampu
halide logam
yang diteruskan ke dalam prisma
yang mana cahaya
akan tersebar pada tiga panel polysilikon, yaitu komponen warna merah, hijau
dan biru pada sinyal
video.
Proyektor
LCD
berisi panel cermin
yang terpisah satu sama lain. Masing-masing panel terdiri dari dua pelat cermin
yang di antara keduanya terdapat liquid crystal. Ketika terdapat perintah atau
instruksi, kristal
akan membuka untuk membolehkan cahaya
lewat atau menutup untuk mem-block cahaya
tersebut Membuka dan menutupnya pixel
ini yang bisa membentuk gambar.
Lampu
yang digunakan pada proyektor LCD
adalah lampu
halide logam
karena menghasilkan suhu warna
yang ideal dan spektrum
warna
yang luas. Lampu
ini juga memiliki kemampuan untuk memproduksi cahaya
dalam juga sangat besar dalam area kecil dengan arus proyektor
sekitar 2.000-15.000 ANSI lumens. Indonesia termasuk salah satu negara tujuan
pasar proyektor
LCD
ini. Berbagai perusahaan proyektor LCD
memasarkan produk mereka seperti Sony dan Sanyo. Produk proyektor
LCD
yang mereka tawarkan beragam mulai dari yang hemat energi sampai model terbaru
yang lebih kecil dan ringan.
5. Permukaan Layar Proyeksi LCD
Karena menggunakan lampu halide logam kecil dan
kemampuannya untuk dapat memproyeksikan gambar pada setiap permukaan datar, proyektor LCD cenderung memiliki
ukuran kecil dan lebih mudah dibawa-bawa daripada jenis proyektor
lain. Untuk mendapatkan tampilan gambar yang bagus, permukaan atau surface yang biasa digunakan
permukaan warna
putih, abu-abu, atau hitam. Penerimaan warna dalam
pemroyeksian gambar
tergantung permukaan proyeksi dan kualitas proyektor. Warna yang paling
sering digunakan dan dipilih sebagai permukaan proyeksi adalah warna putih karena
dianggap warna
paling netral dan lebih natural sehingga biasa digunakan pada lingkungan sekolah dan
bisnis untuk presentasi. Bagaimanapun, gelap atau terangnya hasil proyeksi
suatu gambar
tergantung seberapa gelap layar tersebut. Karena itu, beberapa presentator lebih memilih
menggunakan layar
abu-abu yang mana lebih membentuk warna yang lebih kontras. Background yang lebih gelap dapat
mengalihkan sifat warna
dari yang seharusnya. Persoalan warna terkadang dapat diatur melalui pengaturan proyektor,
tetapi mungkin tidak seakurat pada background putih.
6. Cara Kerja LCD
Proyektor LCD bekerja berdasarkan prinsip
pembiasan cahaya yang dihasilkan
oleh panel-panel LCD. Panel ini
dibuat terpisah berdasarkan warna-warna dasar, merah, hijau dan biru (R-G-B)
sehingga terdapat tiga panel LCD dalam
sebuah proyektor. Warna gambar yang dikeluarkan oleh proyektor merupakan
hasil pembiasan dari panel-panel LCDtersebut yang telah disatukan oleh sebuah prisma khusus. Gambar yang telah disatukan tersebut
kemudian dilewatkan melalui lensa dan
dijatuhkan pada layar sehingga
dapat dilihat sebagai gambar utuh. Gambar yang dihasilkan proyektor LCD memiliki kedalaman warna yang baik karena warna yang dihasilkan olah panel LCD langsung dibiaskan lensa ke layar. Selain itu gambar pada proyektor LCD juga lebih tajam dibandingkan
dengan hasil gambar proyektor DLP.
Kelebihan lain dari LCD adalah
penggunaan cahaya yang lebih
efisien sehingga dapat memproduksi “ansi lumens” yang lebih tinggi dibandingkan
proyektor dengan teknologi DLP.
Sedangkan kelemahan teknologi LCD adalah besar piksel yang terlihat
jelas di gambar ini yang
menyebabkan teknologi LCD kurang cocok untuk memutar film karena akan terasa seperti melihat film dari balik mata yang terhalang
selaput katarak.
7. Hipotesis Penelitian atau Tindakan
Hipotesis
dalam penelitian ini adalah
Ha : “Ada
Dampak Penggunaan LCD Terhadap Proses
Belajar Mengajar di Kelas XII IPA 1 SMA
Negeri 1 Palopo”.
Ho : “
Tidak Ada Dampak Penggunaan LCD Terhadap
Proses Belajar Mengajar di Kelas XII IPA
1 SMA Negeri 1 Palopo”.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA 1 Palopo
yang beralamat di Jalan Tembus Barepan,
Cawas, Klaten dan dilakukan pada Siswa Kelas XII IPA Tahun Ajaran 2012/2013. Pelaksanaan
penelitian ini dimulai pada tanggal 28 Februari 2013 pada pukul 10.00 – 13.00.
B.
Variabel Penelitian
Menurut
Suharsimi Arikunto (2006: 118) “Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang
menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Variabel penelitian dapat dibedakan
menurut kedudukan dan jenisnya yaitu variabel terikat dan variabel bebas.
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas.
Variabel tersebut adalah:
1.
Variabel Terikat (Dependent variable) yaitu Proses Belajar Mengajar di
Kelas XII IPA 1 Palopo
2.
Variabel Bebas (Independent variable) meliputi Dampak Penggunaan LCD
C. Teknik Pengumpulan Data
1.
Angket (kuesioner)
Menurut Sugiyono (2010: 199) mengemukakan bahwa “Kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawabnya”. Metode angket digunakan untuk
mengungkapkan data Dampak Pengguaan LCD Terhadap Proses Belajar Mengajar
2.
Dokumentasi
Suharsimi Arikunto
(2006:231) mengemukakan bahwa “Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal
atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya”. Dokumentasi dalam
penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan data Dampak Penggunaan LCD terhadap
Proses Belajar Mengajar di Kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Palopo tahun ajaran
2012/2013.
3. Wawancara
Wawancara adalah sebuah
dialog yang dilakukan oleh pewanwancara untuk memperoleh informasi dari
terwawancara. Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui dampak pengunaan LCD
terhadap roses belajar mengajar terhadap siswa. Wawancara ini dilakukan kepada
sebagian 16 siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Palopo.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.
Hasil Penelitian
Dari
proses pengumpulan data mengenai dampak penggunaan LCD terhadap proses belajar
mengajar di kelas XII IPA 1 diperoleh data dari berbagai responden sebagai
berikut :
A.Kesumawardani
: Menurut saya manfaat LCD dalam proses belajar mengajar yaitu memperlancar dan
mengembangkan kualitas guru dan siswa karena dengan adanya LCD siswa lebih
memperhatikan dan lebih jelas mempelajari suatu pelajaran yang menanyangkan
suatu gambar atau video.
Arnol
: Menurut saya, LCD sangat berguna untuk proses belajar
mengajar karena sangat efektif bagi guru
yang sudah mempunyai bahan ajar yang dapat langsung dipresentasikan dan sangat
mudah bagi guru untuk menjelaskannya bagi siswa.
Brigita
: Menurut saya pengguaan LCD sangat bermanfaat dalam proses
belajar mengajar terutama saat ada
presentase yang akan dimunculkan sehingga semua siswa dapat melihat presentase
tersebut.
Dirgah
P. : LCD sangat membantu dalam proses belajar mengajar dan membuat
siswa menjadi tidak menghayal karena adanya animasi yang ditampilkan jadi lebih
menarik bagi siswa dan siswa yang tidak mempunyai buku paket dapat dilihat
dengan adanya LCD.
Fany
: Menurut saya LCD sangat berguna untuk siswa dalam proses
belajar mengajar khususnya bagi siswa yang tidak punya buku paket sehingga
mereka juga bisa belajar bersama.
Fitriani
: Menurut saya belajar dengan proses menggunakan LCD berdampak
positif bagi siswa. Karena dapat membantu untuk menampilkan contoh atau
gambaran materi yang belum dimiliki oleh siswa.
Juventiana
: Menurut
saya LCD sangat berguna untuk proses belajar mengajar karena dengan LCD kita
lebih mudah memahami suatu materi pelajaran dan juga dapat menunnjang
mutu/kualitas proses belajar mengajar.
Mutawadiyah
: Materi
yang diberiakan guru lebih jelas dan luas dengan adanya LCD. Tapi mempunyai
kekurangan yaitu interaksi antara siswa dan guru menjadi kurang baik karena
guru hanya terpaku pada materi yang disediakannya saja dan kurang menjelaskan
materi kepada siswa, sehingga siswa kurang mengerti atau memahami.
Nadia
: LCD membantu proses belajar mengajar dengan menampilkan bahan
ajar dengan lebih tampak besar.
Nurul
: Menurut saya, LCD sangat berguna untuk proses belajar mengajar
yang efektif.
Olivia
: Menurut saya dampak positif dari penggunaan LCD yaitu
mempermudah siswa dalam memahami suatu materi pelajaran yang dimiliki guru
misalnya pelajaran biologi untuk menampilkan animasi-animasi yang menyangkut
pelajaran tersebut.
Sri
Handayani : Menurut saya, proses belajar mengajar dengan menggunakan LCD
sangat bermanfaat karena dapat mempermudah proses belajar mengajar. Selain itu,
siswa juga dapat melihat tampilan gambar dan animasi sehingga siswa tidak perlu
berkhayal.
Yuliani
: Menurut saya LCD dapat memperlancar proses belajar mengajar dan
tidak membuat kita menghayal tentang apa yang kita pelajari khususnya tentang
biologi. Sedangkan negatifnya proses interaksi antara
guru kurang baik, sehingga siswa kurang mengetahui pelajaran tersebut.
Yulianti
: Menurut saya proses belajar mengajar dengan menggunakan LCD
membuat kita tidak menghayal karena dalam menampilkan bahan ajaran
diikutsertakan dengan gambar.
Berdasarkan
data tersebut daat dibuat diagram lingkaran sebagai berikut :
Dampak
positif yang dikemukakan oleh siswa
sebesar 87%.. Sedangkan dampak negatif sebesar 13 %. Dampak negatif ini
disebabkan karena penggunaan LCD mempunyai kekurangan yaitu interaksi antara
siswa dan guru menjadi kurang baik karena guru hanya terpaku pada materi yang
disediakannya saja dan kurang menjelaskan materi kepada siswa, sehingga siswa
kurang mengerti atau memahami. Sedangkan negatifnya proses interaksi antara
guru kurang baik, sehingga siswa kurang mengetahui pelajaran tersebut.
Berdasarkan
data di atas siswa mengemukakan pendapatnya mengenai dampak positif penggunaan
LCD.
v
Siswa mengemukakan pendapatnya mengenai
persentase yaitu sebesar 42%. Persentase dalam penelitian ini mencakup
ketertarikan siswa pada animasi-animasi, gambar, dan video yang ditampilkan
oleh guru. Selain itu penggunaan LCD dapat menampilkan tampilan yang dapat
diihat oleh siswa dan tampilannya lebih besar dibandingkan tanpa LCD.
v
Sedangkan mengenai bahan ajar siswa
mengemukakan pendapatnya sebesar 21%. Bahan ajar ini mencakup tidak adanya buku
paket yang dimiliki oleh siswa oleh karena itu guru dapat mempersentasikan
bahan ajarannya ke siswa yang tidak memiliki buku paket.
v
Pendapat siswa mengenai penggunaan LCD
dari segi penjelasan guru dan pengertian siswa sebesar 16 %. Dalam hal ini
dengan adanya LCD penjelasan yang diberikan guru lebih baik yang dapat lebih
mudah dimengerti oleh siswa.
v
Sedangkan mengenai pengembangan kualias
guru dan mutu pelajaran sebesar 10 %. Siswa berpendapat penggunaan LCD dalam
proses belajar mengajar meningkatkan kualitas guru dalam mengetahui cara
penggunaan LCD yang benar. Selain itu materi yang dibahas lebih meluas.
v Dari
segi keefektifan sebesar 11 %. Siswa berpendapat pengguanan LCD dalam proses
belajar mengajar lebih efektif dibandngka tanpa penggunaan LCD.
BAB
V
KESIMPULAN
dan SARAN
A. Kesimpulan
1.
Media pembelajaran adalah seperangkat
alat bantu atau pelengkap yang
digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka
berkomunikasi dengan
siswa atau siswa.
2.
Manfaat media dalam pembelajaran yaitu:
(a) dapat memperjelas penyajian
pesan dan informasi sehingga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar,
(b) menarik minat siswa sehingga dapat menimbulkan
motivasi belajar,
(c) dapat mengatasi keterbatasan indera,
ruang dan waktu,
(d) dapat memberikan kesamaan pengalaman dan persepsi
kepada siswa,
(e) pembelajaran akan lebih menarik didukung media
pembelajaran yang inetraktif dan
edukatif, sehingga terjadi komunikasi dua arah antara guru dan siswa.
3. Proses belajar mengajar adalah proses
komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran.
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada dikurikulum dituangkan oleh guru
atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi berupa simbol verbal maupun
non verbal.
4. LCD
merupakan salah satu jenis proyektor
yang digunakan untuk menampilkan video,
gambar,
atau data dari komputer
pada sebuah layar atau sesuatu dengan permukaan datar seperti tembok, dsb.
6. Sedangkan kelemahan teknologi LCD adalah besar piksel yang terlihat
jelas di gambar ini yang
menyebabkan teknologi LCD kurang cocok untuk memutar film karena akan terasa seperti melihat film dari balik mata yang terhalang
selaput katarak.
B.
Saran
1.
Sebaiknya dalam penggunaan LCD di kelas,
interaksi antara siswa dan guru tidak baik, sebaliknya harus lebih intensif.
2.
Sebaiknya siswa dapat lebih mengerti
pelajaran yang ditampilkan guru melalui LCD.
3.
Dalam proses belajar mengajar sebaiknya
digunakan LCD supaya proses belajt mengajar lebih efektif.
\
Daftar Pustaka
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 2006. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Syah,
Muhibin. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya.
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
file:///C:/Users/acer/Documents/b.indo/412.php.htm
RIWAYAT HIDUP
Nama : Grace Oktavia Soma
Kasi’
Anak ke : 2 dari 4 bersaudara
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat, tanggal lahir : Pangkep, 27 Oktober 1995
Agama : Kristen Protestan
Alamat : K.H.M
Kasim (Lorong Dermawan)
Cita-cita : Dokter
Hobby : Nonton video, belajar,
dan Jalan-jalan
Status :
Pelajar SMAN 1 PALOPO
Kelas : XII IA 1
Nama Orang tua
a. Ayah
: Yunus
b.
Ibu :
Hanna Soma
Pekerjaan orang tua
a. Ayah :
Polisi
b. Ibu :
PNS
Riwayat pendidikan
a. TK : TK Bhayangkari
Pangkep
b.
SD :
SD Negeri 81 Langkanae
c.
SMP :
SMP Frater Disamakan Palopo
d.
SMA :
SMA Negeri 1 Palopo
Langganan:
Komentar (Atom)